Perjuangan Kelompok Pencinta Lingkungan dan Feminis

Aktivisme dari kelompok pencinta lingkungan telah melalui transformasi historis yang panjang. Pada awalnya, terdapat dua perspektif dominan di antara kelompok pencinta lingkungan yaitu perspektif pelestarian dan konservasi. Kelompok pelestarian melihat jika sebagian alam harus dijaga dan dipisahkan dari kehidupan manusia namun tetap dialokasikan untuk tujuan manusia seperti rekreasi, sementara kelompok konservasi secara utilitarian berpendapat jika alam perlu dikonservasi dan dimanfaatkan secara berkelanjutan agar generasi di masa depan tetap dapat memanfaatkannya. Pandangan ini pun mendapatkan kritik karena masih terlalu antroposentris (manusia-sentris) karena melihat alam sebagai sesuatu yang bernilai hanya karena dapat dimanfaatkan manusia, pandangan ini juga dikenal dengan istilah shallow ecology. Berangkat dari kritik sebelumnya, akhirnya muncul sebuah perspektif lingkungan ‘deep ecology’ yang mempromosikan biosentrisme. Salah satu tokoh deep ecology adalah Leopold yang melihat jika bumi merupakan sistem kehidupan, persimpangan elemen-elemen yang terjalin secara rumit dan saling bergantung yang berfungsi bagi keseluruhan organisme, karena itu suatu kerusakan di sistem akan memengaruhi seluruh sistem. Deep ecology pun sangat menolak pandangan antroposentrisme yang selama ini menjadi wacana dominan dan menganggap jika alam adalah sesuatu yang harus dikuasai, & dimanfaatkan oleh manusia.

Dari perspektif  Deep ecology di atas lah konvergensi antara perjuangan kelompok pencinta lingkungan dan feminis terbentuk. Mengapresiasi pandangan deep ecology yang telah mendekonstruksi wacana hubungan manusia-alam ala Barat, kelompok feminis (khususnya ekofeminis) melihat jika perspektif ini hampir sempurna hanya saja mereka melihat jika di sini masalah utama dari kerusakan lingkungan hidup adalah androsentrisme dan bukan antroposentrisme. Ekofeminis Karen J. Warren pun mengelaborasikan argumen tersebut dengan menjelaskan kerangka konseptual patriarki yang terdiri dari tiga elemen yaitu: (1) value-hierarchial thinking yang mempromosikan cara pikir “atas-bawah” dan akhirnya memandang jika apapun yang berada di atas lebih baik daripada apa yang ada di bawah; (2) dualisme nilai yang memasangkan dua hal oposisional secara hierarkis (misal “pengetahuan”, “logika”, dan “laki-laki” lebih tinggi dibandingkan “benda”, “emosi” dan “perempuan”); yang akhirnya menciptakan (3) logika dominasi. Dari kerangka konseptual patriarki ini lah dominasi terhadap perempuan dan alam dijustifikasi. Carol Adams lebih lanjut menjelaskan jika terdapat kaitan erat antara perempuan dan alam sebagai objek yang dikonsumsi dalam budaya androsentris. Perempuan dan binatang misalnya sama-sama mengalami siklus objektifikasi (hewan sebagai makanan sementara perempuan sebagai objek seks), fragmentasi (hewan dipotong-potong per bagian untuk dimakan sementara bagian tubuh perempuan dibagi-bagi berdasarkan fetish), dan dikonsumsi (misalnya ayam dikonsumsi di restoran, perempuan dikonsumsi lewat hasil pornografi). Akhirnya, perempuan dinaturalisasi dalam arti mereka seringkali dideskripsikan dalam istilah binatang seperti “chicks, foxes, bitches, pussycats” sementara alam difeminisasi karena telah diperkosa, dikuasai, dikontrol, dipenetrasi, dan ditundukan oleh laki-laki. Karena itu, terdapat kaitan langsung antara penindasan terhadap perempuan dan penindasan terhadap alam, memberikan basis bagi kerja sama antara kelompok pencinta lingkungan dan feminis dalam melawan androsentrisme dan pola pikir patriarki yang didasari pada dominasi dan hierarki.